Ketika Media Digital mengantarkan anak lebih dekat dengan Bahasa Al Qur’an

KETIKA MEDIA DIGITAL MENGANTARKAN ANAK LEBIH DEKAT DENGAN BAHASA AL-QUR’AN

Oleh : Baiq Raudatussolihah

Dosen UNM

 

Di sela deru gawai yang riuh oleh permainan dan video pendek, ada satu ruang kecil yang belakangan tumbuh diam-diam: layar yang sama, yang biasanya menjadi tempat anak-anak bermain, kini mulai digunakan untuk mengeja huruf hijaiyah, melafalkan kosakata Arab, hingga menghafal potongan ayat Al-Qur’an. Fenomena ini bukan kebetulan. Ia lahir dari sebuah keresahan sekaligus ikhtiar: bagaimana caranya generasi yang tumbuh bersama layar dapat tetap dekat dengan bahasa kitab agamanya?

Keresahan itulah yang menjadi titik tolak sebuah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menyasar anak-anak usia sekolah dasar di lingkungan tempat pengajian dan taman pendidikan Al-Qur’an berada. Alih-alih menempatkan media digital sebagai musuh yang harus dijauhi, tim pelaksana justru memilih jalan sebaliknya: menjadikan media digital sebagai jembatan untuk mendekatkan anak-anak pada bahasa Arab Al-Qur’an.

Ketika Bahasa Arab Terasa Jauh

Bagi banyak anak, bahasa Arab kerap terasa sebagai sesuatu yang asing dan berat. Huruf-hurufnya berbeda dari huruf Latin yang mereka pelajari di sekolah, cara membacanya pun menuntut ketelitian tersendiri. Tidak jarang, proses belajar mengaji berhenti di tengah jalan karena anak merasa jenuh atau kesulitan memahami makna dari apa yang mereka lafalkan.

Padahal, kedekatan dengan bahasa Al-Qur’an bukan sekadar soal kemampuan membaca huruf hijaiyah dengan lancar. Ia menyangkut pemahaman makna, penghayatan, dan pada akhirnya kecintaan terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Di titik inilah muncul pertanyaan sederhana namun penting: mengapa tidak memanfaatkan sesuatu yang sudah sangat dekat dengan keseharian anak-anak, yaitu media digital, untuk menjembatani kesenjangan ini?

Bermain Sambil Mengenal Al-Qur’an

Dalam kegiatan ini, tim pelaksana merancang serangkaian media pembelajaran digital yang sederhana namun menarik. Video animasi pengenalan huruf hijaiyah, kuis interaktif kosakata Arab, hingga aplikasi permainan edukatif menjadi alat bantu utama. Anak-anak tidak lagi hanya duduk mendengarkan penjelasan, melainkan diajak berinteraksi langsung dengan materi melalui layar yang mereka kenali dan sukai.

Pendekatan ini membawa perubahan yang cukup terasa. Anak-anak yang semula pasif dan cepat bosan mulai menunjukkan antusiasme baru. Mereka bersemangat menjawab kuis, saling berlomba menyelesaikan tantangan permainan, bahkan meminta untuk melanjutkan sesi belajar meski waktu yang disediakan sudah usai. Suasana belajar yang tadinya terasa kaku perlahan berubah menjadi ruang yang hidup dan menyenangkan.

Yang menarik, pendekatan berbasis media digital ini juga membantu anak-anak memahami makna kata, bukan sekadar menghafal bunyi. Ketika sebuah kosakata Arab dikaitkan dengan gambar, warna, atau animasi yang relevan, anak-anak lebih mudah mengingat sekaligus memahami konteksnya. Bahasa Al-Qur’an yang semula terasa jauh perlahan menjadi sesuatu yang akrab dan membumi bagi keseharian mereka.

Peran Orang Tua dan Pendamping

Keberhasilan pendekatan ini tidak lepas dari peran orang tua dan pendamping di lingkungan tempat kegiatan berlangsung. Media digital yang digunakan bukan untuk menggantikan peran guru mengaji atau orang tua, melainkan menjadi alat bantu yang memperkuat proses belajar yang sudah berjalan. Pendampingan tetap menjadi kunci agar penggunaan gawai terarah pada tujuan pembelajaran, bukan sekadar hiburan semata.

Tim pelaksana kegiatan juga memberikan pengenalan singkat kepada orang tua mengenai cara memilih dan mendampingi anak menggunakan media digital untuk belajar mengaji. Harapannya, kebiasaan baik ini dapat terus berlanjut meski kegiatan pengabdian telah selesai dilaksanakan.

Digital Bukan Ancaman, tapi Peluang

Kegiatan ini memberi sebuah pelajaran penting:m, media digital tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman bagi nilai-nilai keagamaan dan tradisi belajar mengaji. Jika dirancang dan digunakan dengan tepat, media digital justru dapat menjadi peluang besar untuk mendekatkan generasi muda dengan bahasa Al-Qur’an secara lebih menyenangkan dan relevan dengan zamannya.

Tentu, langkah ini bukan tanpa tantangan. Diperlukan kreativitas berkelanjutan dalam mengembangkan konten, konsistensi pendampingan dari orang tua dan pengajar, serta kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan antara dunia digital dan pembelajaran yang bermakna. Namun, dari kegiatan kecil di tingkat masyarakat ini, tampak jelas bahwa satu langkah sederhana dapat membuka jalan yang lebih luas: anak-anak yang tumbuh akrab dengan gawai, kini juga tumbuh akrab dengan bahasa kitab agamanya.

Pada akhirnya, mendekatkan anak pada bahasa Al-Qur’an bukan soal memilih antara dunia digital atau cara belajar konvensional, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan. Ketika media digital digunakan dengan niat dan arah yang tepat, layar yang setiap hari ada di genggaman anak-anak bisa berubah menjadi jendela yang membawa mereka semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *