Nusabrita.com, Pangkep — Menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi yang semakin cepat, STAI DDI Pangkep terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kompetensi, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi. Hal tersebut menjadi fokus dalam Kuliah Umum STAI DDI Pangkep yang menghadirkan Prof. Dr. Hannani sebagai narasumber. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula STAI DDI Pangkep, Senin 7 September 2026.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua STAI DDI Pangkep, Dr. Muhammad Mahrus Amri, Lc., MA., serta diikuti oleh seluruh mahasiswa dan para dosen STAI DDI Pangkep. Kuliah umum menjadi bagian penting dalam memperkuat wawasan akademik sekaligus membangun kesadaran bersama tentang perubahan dan tantangan yang akan dihadapi perguruan tinggi pada masa mendatang.
“Kuliah umum ini menjadi momentum bagi mahasiswa maupun dosen untuk memperluas wawasan, mengasah kompetensi, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. Saya berharap seluruh mahasiswa dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal untuk menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.” jelas Dr.Mahrus
Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Dr. Hannani, M.Ag menyampaikan materi bertajuk “Skill Abad 21 dan 10 Tantangan PTS 2026–2035”. Materi tersebut mengangkat gagasan besar mengenai perlunya transformasi perguruan tinggi dari kampus penyedia gelar menjadi kampus pembentuk kompetensi, inovasi, dan masa depan.
Mahasiswa Tidak Cukup Hanya Menguasai Pengetahuan
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Hannani menjelaskan bahwa keterampilan abad ke-21 dapat dipahami melalui tiga pilar utama, yakni Foundational Literacies, Competencies, dan Character Qualities.
Mahasiswa tidak lagi cukup hanya memiliki pengetahuan akademik. Mereka harus mampu berpikir kritis, menyelesaikan persoalan, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama, menghasilkan gagasan kreatif, serta memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi perubahan.
Kemampuan tersebut semakin penting karena dunia kerja dan kehidupan sosial terus mengalami perubahan. Karena itu, pendidikan tinggi perlu memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga membangun kemampuan mahasiswa untuk menghadapi persoalan nyata.
Menjawab Tantangan Era Artificial Intelligence
Salah satu perhatian utama dalam kuliah umum tersebut adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk proses pembelajaran, pekerjaan dosen, penelitian, asesmen, hingga pekerjaan administratif perguruan tinggi.
Prof. Dr. Hannani menekankan pentingnya mahasiswa memiliki AI Literacy, Digital Literacy, Data Literacy, Analytical Thinking, Creative Thinking, Lifelong Learning, Resilience, Leadership, Entrepreneurship, serta kemampuan menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
Dalam konteks ini, AI tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dilarang. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipahami dan dimanfaatkan secara cerdas, kritis, produktif, dan beretika.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi mahasiswa sebagai generasi yang akan memasuki dunia kerja dan kehidupan profesional yang semakin terdigitalisasi.
Sepuluh Tantangan Perguruan Tinggi Swasta
Selain membahas keterampilan mahasiswa, Prof. Dr. Hannani juga menguraikan 10 tantangan strategis Perguruan Tinggi Swasta (PTS) 2026–2035.
Tantangan tersebut meliputi persaingan mahasiswa baru, keberlanjutan keuangan, relevansi kurikulum, disrupsi AI, diferensiasi institusi, mutu dan tata kelola berbasis data, transformasi kompetensi dosen, employability lulusan, dampak riset dan kerja sama, serta good university governance.
Menurut materi tersebut, perubahan tidak dapat dihindari. Perguruan tinggi perlu membaca perkembangan masa depan, menentukan positioning yang jelas, membangun kompetensi, melakukan transformasi dosen, menghasilkan lulusan yang kompeten, dan pada akhirnya mampu membuktikan dampaknya bagi masyarakat.
Dosen Dituntut Terus Bertransformasi
Tantangan abad ke-21 juga menuntut perubahan pada peran dosen. Dosen masa depan tidak cukup hanya menguasai materi dan menyampaikan pembelajaran di ruang kelas.
Dosen diharapkan mampu menjalankan peran sebagai educator, researcher, mentor, innovator, digital/AI user, dan industry connector. Dengan demikian, dosen tidak hanya menjadi penyampai pengetahuan, tetapi juga menjadi penggerak inovasi, pembimbing mahasiswa, peneliti yang berdampak, serta penghubung antara perguruan tinggi dengan dunia profesional.
Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan menciptakan ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Membangun Lulusan yang Kompeten dan Berdaya Saing
Kuliah umum juga menegaskan bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi ke depan tidak hanya dilihat dari keberhasilan menghasilkan lulusan, tetapi juga dari kemampuan nyata lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Perguruan tinggi perlu memperkuat berbagai instrumen seperti career center, tracer study, magang, proyek bersama dunia industri, sertifikasi, inkubator bisnis, serta jejaring alumni untuk meningkatkan daya saing dan employability lulusan.
Dengan demikian, mahasiswa STAI DDI Pangkep diharapkan tidak hanya menjadi lulusan yang memiliki ijazah, tetapi menjadi pribadi yang memiliki kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
STAI DDI Pangkep Menuju Kampus yang Adaptif
Bagi STAI DDI Pangkep, kuliah umum ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam membangun budaya akademik yang relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Pesan utama yang disampaikan Prof. Dr. Hannani adalah bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang “tahu”, tetapi harus menghasilkan lulusan yang mampu berpikir, beradaptasi, berkolaborasi, berinovasi, dan menyelesaikan masalah.
Di tengah perubahan teknologi dan semakin ketatnya persaingan pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen harus menjadi bagian dari perubahan tersebut. Kampus perlu terus bergerak dari pola lama menuju pendidikan tinggi yang berbasis kompetensi, inovasi, teknologi, mutu, dan dampak.
Sebagaimana pesan penutup dalam materi kuliah umum tersebut, “Transform or Decline.” Perguruan tinggi harus bertransformasi agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan masa depan. Nilai perguruan tinggi tidak lagi hanya ditentukan oleh gedung, program studi, dan ijazah, tetapi oleh relevansi pendidikan, pengalaman belajar, kompetensi lulusan, pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, serta tata kelola yang berkelanjutan.
Kuliah umum ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh civitas akademika STAI DDI Pangkep untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi, sehingga mampu mewujudkan perguruan tinggi yang semakin berkualitas serta menghasilkan lulusan yang unggul dan siap menghadapi tantangan masa depan.





