Nusa Brita| Mataram, 4 Juni 2026 – Melangkah bersama untuk melindungi masyarakat, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Mataram menggelar pertemuan koordinasi strategis dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Barat (BNNP NTB). Kegiatan ini menjadi bukti nyata penguatan kerja sama antarinstansi dalam mengawasi dan mencegah penyalahgunaan Obat-Obatan Tertentu (OOT) di seluruh wilayah NTB.
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan langkah konkret untuk mempererat kolaborasi, menyusun strategi bersama, dan mempercepat pertukaran informasi mengenai tren serta kasus penyalahgunaan OOT yang berkembang di tengah masyarakat. Kedua belah pihak sepakat bahwa upaya pencegahan tidak bisa dilakukan sendirian diperlukan keterpaduan peran agar langkah yang diambil lebih efektif dan tepat sasaran.
Strategi Terpadu: Edukasi, Pengawasan, hingga Operasi Bersama
Dalam pembahasan yang berlangsung hangat, disepakati sejumlah langkah strategis yang akan dilaksanakan bersama. Salah satu fokus utamanya adalah memperluas kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Materi akan disosialisasikan kepada berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas pemuda, hingga kelompok masyarakat lainnya yang berpotensi terpapar risiko penyalahgunaan obat. Tujuannya sederhana namun penting: agar setiap orang memahami bahaya, mengenali tanda-tanda penyalahgunaan, dan tahu cara menghindarinya.
Selain edukasi, kedua instansi juga akan terus saling berbagi data dan informasi mengenai pola peredaran serta cara penyalahgunaan OOT. Informasi ini menjadi dasar penting untuk menyusun rencana pengawasan dan intervensi yang tidak hanya cepat, tapi juga akurat. Tak hanya itu, pintu kerja sama juga terbuka lebar untuk melaksanakan operasi bersama bertujuan untuk menindak tegas peredaran obat yang disalahgunakan dan melanggar aturan yang berlaku..
Masih Jadi Tantangan: Penyalahgunaan Tramadol, Triheksifenidil, dan Dekstrometorfan
Kepala Balai Besar POM di Mataram, Yogi Abaso Mataram, menyampaikan bahwa hingga saat ini, penyalahgunaan obat-obatan seperti tramadol, triheksifenidil, dan dekstrometorfan masih menjadi perhatian serius dan ditemukan di berbagai wilayah di NTB. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penguatan edukasi kepada masyarakat dan pengawasan ketat terhadap peredaran obat harus dilakukan secara terus-menerus, dan tentunya melibatkan semua pihak yang terkait,” ujarnya.
Yogi juga menegaskan bahwa obat yang seharusnya digunakan untuk pengobatan, justru bisa berubah menjadi bahaya jika disalahgunakan. Oleh karena itu, pengawasan dari hulu hingga hilir menjadi sangat krusial.
Sambut Baik Kolaborasi, Waspadai Isu Baru: Rokok Elektrik Berbahan Narkotika
Sementara itu, Kepala BNNP NTB, Brigjen Pol. Marjuki, S.I.K., M.Si., menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif yang diambil oleh Balai Besar POM Mataram. Menurutnya, kerja sama antarinstansi adalah kunci utama dalam menangani masalah penyalahgunaan obat dan narkotika, yang saat ini juga dihadapkan pada tantangan baru.
“Kami juga menyikapi dengan serius isu peredaran rokok elektrik yang diduga mengandung zat narkotika. Hal ini menjadi tantangan baru yang membutuhkan perhatian dan penanganan bersama. Melalui kolaborasi ini—mulai dari edukasi, pengawasan, hingga berbagi data kami yakin upaya pencegahan di NTB akan semakin kuat dan terarah,” tegas Brigjen Marjuki.
Sinergi Lintas Sektor: Kunci Lindungi Generasi Masa Depan
Di akhir pertemuan, kedua belah pihak menyatakan komitmen untuk menjaga kerja sama ini tetap erat, berkelanjutan, dan tidak hanya berhenti di atas kertas, tapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Diharapkan, sinergi yang terjalin ini mampu meningkatkan kesadaran seluruh warga NTB tentang bahaya penyalahgunaan OOT, memperkuat sistem pengawasan, dan yang terpenting melindungi anak muda, generasi penerus, dari jerat bahaya yang mengancam masa depan mereka. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama.
(HS/Red)





